Limbah Goni Warisan Seni Sahabat

NusantaraNia.Net-Indah Permata Sari. Satu fakta bahwa kreatifitas memiliki nilai seni yang cukup tinggi, dan itu tidak dapat dipungkiri. Seperti contoh salah seorang kreatifitas karung goni di Medan, ditangannya dapat menjadikan sebuah miniatur dengan bahan dan alat yang cukup sederhana. Siapa sangka, bahwa bahan serta alat yang mudah ditemui tersebut disulap begitu saja alhasil menjadi produk unik dan menarik, cerita demi cerita ternyata kreatifitas tersebut didapat dari sahabat yang telah tiada menjadikan warisan seni hingga saat ini dalam hidupnya.

Rudy Coro warga Jalan Danau Singkarak Gg. Madrasah ini adalah seorang perajin dengan bahan dasar dari karung goni yang memiliki kreatifitas diwarisi oleh seorang sahabatnya yang telah meninggal. Limbah goni ini menjadi kegiatan untuk meneruskan seni kreatifitas seorang sahabatnya yang dimulai dari tahun 2014 hingga saat ini.

Rumah sederhana yang mentok di ujung gang ini tepat pada samping rel kereta api, dipenuhi dengan kerajinan tangan hasil kreatifitas limbah goni.  Dirinya mengakui dalam pembuatan miniatur berbahan dasar limbah goni ini terinspirasi dari sahabatnya, karena sahabatnya sendiri yang mengawali dan Rudy hanya melanjutkan karya tersebut.

Alasannya, hanya untuk melanjutkan seni dari sahabat dikarenakan barang unik, serta enak dikerjakan dan juga berbahan murah.

Dalam pembuatan miniatur Rudy mengakui tidak sembarangan dan semudah yang dibayangkan untuk membuatnya, miniatur ini juga memiliki hambatan dalam pembuatan karena dibutuhkan kreatifitas dan ketelatenan.

“Dibilang susah enggak juga, tapi di bilang gampang juga enggak.” Ungkap Rudy.

Bentuk miniatur dari produk yang di olah Rudy sendiri menghasilkan beragam miniatur berdasarkan dengan realita aktivitas manusia sehari-hari.

Berikut ini penjabaran Rudy dalam jenis miniatur yang telah dibuat “Untuk yang ini ada sekitar 10 karakter, banyak macamnya, ada orang lagi nyapu, lagi main musik, orang baca buku, orang lagi mancing, orang bawa kayu dan banyak macam, sekarang udah sampai 15 karakter yang udah dilakukan selama 4 tahun.”

 

Foto : Indah

Pembuatan karakter memerlukan waktu, dan dalam 1 pembuatan karakter ini memakan waktu sekitar 2 jam. Sedangkan untuk peminatan pembeli selalu ada dan selalu habis ketika dijual saat pameran.

Proses produksi singkat, awalnya dipotong kawat 10 cm, dan badan dibalut, setelah itu menggunakan kain yang disediakan baju dan celana serta aksesoris. Untuk tingkat kesulitan hanya menentukan karakter.

Foto : Indah

Alat dalam pembuatan ini tidak rumit, seperti yang diungkapkan oleh Rudy berikut, “Bahan dasarnya yaitu goni, kain perca, dan kawat, untuk alatnya tang dan gunting.” Tambahnya

Untuk sebuah kreatifitas miniatur berbahan dasar goni, di banderol tidak terlalu mahal dan cukup terjangkau, tetapi bervariasi. Mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 250 ribu, tergantung karakter serta pemesanan masing-masing. Hal ini karena tingkat kesulitan dan lama pengerjaan, selanjutnya penjualan limbah goni yang telah menjadi miniatur ini akan dijual dalam pameran-pameran UMKM. Pembuatan ini dibuat oleh dirinya sendiri tanpa dibantu oleh orang lain, dan bermodalkan murah.

Menurut Rudy pekerjaan ini hanyalah sampingan, tapi dirinya berharap menjadi pekerjaan rutin sehingga dapat meningkatkan perekonomian. Saat ini Rudy mulai memasarkan produknya dengan cara online melalui media sosial.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *